Anak Itu Cermin

Oleh : Anton Rahmat Widodo

Ilustrasi oleh AI

Catatan ringan dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional 2025

Kita tentu sudah memahami bahwa anak itu adalah anugerah terindah dari Allah SWT (Q.S. Al Furqan [25] ayat 74). Anak juga merupakan perhiasan hidup di dunia ini (Q.S. Ali Imran [3] ayat 14 dan Al Kahfi [18] ayat 46).


Namun anak juga bisa menjadi musuh dan cobaan bagi orang tuanya (Q.S. Al Taghabun [64] ayat 14 dan 15), ujian keimanan (Q.S. Al Munaafiquun [63] ayat 9) sekaligus peringatan kecintaan dan ketaatan manusia kepada Allah (Q.S. At Taubah [9] ayat 24).

Melengkapi pemahaman akan anak itu, bagi saya sendiri, anak juga bisa merupakan cermin bagi orang tuanya.


Cermin dapat memperlihatkan gambaran diri kita. Ganteng, cantik atau jeleknya wajah kita bisa terlihat di sana. Cermin bisa menggambarkan hati yang sedang berbunga-bunga nan indah, tapi juga bisa memperlihatkan mendung yang sedang bergayut di hati.

Bahkan cermin bisa memperlihatkan apa yang ingin disembunyikan oleh perasaan, seperti kerutan di wajah sebagai tanda dimulainya proses penuaan.

Anak juga bisa mencerminkan keadaan orang tuanya.

Anak bisa memperlihatkan gambaran kedua orang tuanya dalam dirinya. Pada saat anak terlihat mandiri, rajin, sederhana, bermental tangguh dan tahan banting, bisa jadi begitulah gambaran orang tuanya dari masa remaja hingga dewasanya.


Di saat yang lain, ketika anak bersikap cuek, malas, keras kepala, ngeyel dan susah diatur, bisa juga seperti itulah gambaran orang tuanya.

Cermin bisa menjadi semacam nasehat bagi orang yang sedang bercermin. Maka sungguh tidak bijaksana jika karena buruk rupa maka cermin kita belah.


Apapun keadaannya anak adalah ladang untuk kita terus belajar. Belajar bersabar terhadap segala kekurangannya dan belajar bersyukur akan kehadirannya.

Wallaahu a’laam

Scroll to Top