
MOYUDAN, MUHAMMADIYAHMOYUDAN.OR.ID — Jika ada warga Muhammadiyah yang hidupnya penuh keresahan, galau memikirkan masa depan, dan serba bimbang, bisa jadi itu disebabkan karena yang bersangkutan jarang datang ke pengajian. Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si., saat menyampaikan amanat inti dalam acara “Hari Bermuhammadiyah Moyudan (Pengajian Ahad Wage)” yang berlangsung khidmat pada Ahad (21/6) pagi. Bertempat di Masjid Sabiilul Muttaqin, Kaliduren 1, Sumberagung, Moyudan, Sleman, pengajian berkala ini dihadiri oleh ribuan jamaah dan warga Persyarikatan sejak pukul 07.00 WIB.
Prof. Haedar menyampaikan bahwa pengajian merupakan ruh penggerak organisasi. Oleh karena itu, sudah seyogyanya seluruh warga, terlebih unsur pimpinan di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, terus menggembirakan kegiatan pengajian di semua tingkatan struktur. Selain berfungsi menggerakkan roda organisasi, Haedar menekankan pentingnya pengajian sebagai sarana spiritual individual. “Orang sekarang itu kan banyak galau, resah, dan kaya banyak bimbang dalam hidupnya, itu biasanya jarang datang ke pengajian Muhammadiyah,” ungkap Prof. Haedar. Beliau menambahkan bahwa pengajian sejatinya dapat menjadi media self healing yang menyehatkan jiwa, fisik, sekaligus kehidupan sosial warga Persyarikatan. Beliau juga berpesan agar jamaah meluruskan niat semata-mata ikhlas karena Allah Swt., bukan sekadar melihat siapa penceramahnya, karena langkah kaki menuju majelis ilmu sudah dicatat sebagai pahala.


Rangkaian acara diawali dengan penampilan pembuka yang apik dari jamaah setempat sebelum prosesi resmi dimulai. Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Muhammad Zamroni selaku Master of Ceremony (MC), dilanjutkan dengan tradarus Al-Qur’an bersama membaca Surat Ali Imran ayat 149-155 yang dipimpin dengan syahdu oleh Jamil Rifanto, SE., MM. Usai pembacaan ayat suci Al-Qur’an, seluruh jamaah berdiri tegak untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dilanjutkan dengan berkumandangnya Mars Muhammadiyah “Sang Surya” dengan penuh semangat. Memasuki sesi sambutan, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Moyudan yang diwakili oleh Drs. H. Suisdialwan, MA, menyampaikan apresiasi atas keguyuban warga. Selanjutnya, Drs. Djemidi selaku Ketua Pembangunan Madrasah Diniyah (Madin) Muballighin Kaliduren 1 memaparkan sejarah singkat pembangunan. Beliau mengisahkan dinamika perjuangan madrasah yang pada awalnya harus berpindah-pindah memanfaatkan rumah warga serta ruang kelas SD Negeri Kaliduren, sebelum akhirnya kini berhasil mandiri memiliki fasilitas gedung yang representatif.
Segera setelah pemaparan pembangunan selesai, acara dilanjutkan dengan prosesi pentasyarufan zakat, infaq, dan sedekah (ZIS) oleh Kantor Layanan LazisMu Moyudan. Penyaluran dana ZIS ini diserahkan secara simbolis kepada anak-anak jemaah Masjid Sabiilul Muttaqin Kaliduren 1 sebagai bentuk kepedulian sosial dan dukungan pendidikan di lingkungan setempat. Puncak seremonial ditandai dengan peresmian gedung Madrasah Diniyah Muballighin Muhammadiyah Kaliduren 1 oleh Prof. Dr. K.H. Haedar Nashir, M.Si. bersama dengan Ibu Hj. Surtiyati selaku donatur utama pembangunan. Momentum bersejarah ini disaksikan langsung oleh jajaran pimpinan cabang, ranting, dan ribuan jamaah yang hadir.




Dalam tausiyah intinya, Haedar Nashir juga menyelisik pesan Rasulullah SAW terkait pentingnya menjaga waktu melalui prinsip “5 perkara sebelum 5 perkara”. Beliau secara khusus membakar semangat bermuhammadiyah jamaah Moyudan, seraya memuji etos sosial yang tertanam kuat di PCM Moyudan, yakni semboyan: tiada hari tanpa memberi, tiada minggu tanpa membantu, tiada bulan tanpa iuran, dan tiada tahun tanpa membangun.
“Muhammadiyah sejak awal berdiri hidup dari semangat beramal, sehingga sekarang bisa berkembang sedemikian rupa dan memberi manfaat untuk semua. Semangat memberi ini harus terus dijaga dan dikembangkan,” pesan Prof. Haedar.
Menjelang akhir ceramah, Haedar turut memberikan wejangan kebangsaan yang sangat relevan dengan situasi kontemporer. Beliau mengingatkan warga agar tidak mudah termakan oleh berita bohong (hoaks) dan narasi yang bersifat mengadu domba. Haedar meminta masyarakat, terutama para tokoh publik dan pimpinan, agar tidak mudah bereaksi secara reaktif dalam menyikapi dinamika sosial di media sosial maupun dunia nyata, melainkan harus mengedepankan tabayun serta kejernihan berpikir.
Selain menjadi sarana menimba ilmu dan menguatkan silaturahmi, semarak Pengajian Ahad Wage kali ini juga dilengkapi dengan penyediaan fasilitas pemeriksaan kesehatan gratis bagi jamaah. Di sekitar area masjid, panitia turut menghadirkan stan bazar UMKM lokal yang menjajakan berbagai produk warga, sehingga menambah kemanfaatan sosial dan ekonomi dalam momentum Hari Bermuhammadiyah tersebut.






Acara Hari Bermuhammadiyah Moyudan ini kemudian ditutup dengan doa bersama. Berdasarkan laporan panitia di akhir acara, antusiasme dan komitmen berinfak jamaah yang hadir tercatat sangat tinggi, dengan total perolehan infaq tunai mencapai Rp 13.060.000,- (Tiga Belas Juta Enam Puluh Ribu Rupiah). Dana tersebut nantinya akan dialokasikan untuk pengembangan dakwah persyarikatan serta operasional pendidikan keagamaan di wilayah Moyudan.



